JAKARTA - Bertempat di Jakarta Convention Center, Kamis (4/4) Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan membuka secar resmi Indogreen Forestry Expo 2013. Pameran expo yang mengambil tema potensi kehutanan berbasis lingkungan ini diikuti sejumlah perusahaan migas dan perusahaan yang bergerak dibidang kehutanan.
Indogreen Expo sendiri digelar untuk menyuarakan gerakan penghijauan di seluruh Indonesia, dengan basis beberapa daerah yang selama ini memiliki hutan dan kawasan penyangga gambut serta kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI). Kegiatan yang berlangsung hingga 7 April ini diikuti sejumlah perusahaan multinasional dan beberapa instansi pemerintahan.
Dalam kesempatan itu, Zulkifli berharap peranan stake holder terkait terutama perusahaan kehutanan seperti PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) bisa menjadi mentor gerakan Indonesia hijau ini. Memang katanya, tahun 2010 lalu beberapa perusahaan kehutanan sempat tergoncang dengan keputusan moratorium izin kehutanan.
Tetapi menurutnya, hal itu dilakukan bukanlah untuk mematikan usaha perusahaan kehutanan, melainkan untuk menata kembali kawasan-kawasan yang dianggap penting untuk diselamatkan, seperti kawasan penyangga air. Oleh sebab itu, Zulkifli mendukung upaya dari berbagai pihak termasuk PT RAPP yang berkomitmen dalam penyelamatan hutan ini.
Selain perusahaan kehutanan, Zulkifli juga mengingatkan perusahaan yang bergerak dibidang minyak dan gas (migas), untuk ikut mendukug Indogreen Forestry ini, khususnya rehabilitasi kawasan pasca tambang. " Saya ingatkan juga kepada perusahaan migas, untuk melakukan penataan kawasan atau Rehabilitasi Pasca Tambang (RPT)," tandasnya.
Usai pembukaan, Menhut meninjau sejumlah stand peserta, salah satunya stand PT Riau Andalan Pulp And Paper (RAPP), perusahaan bubur kertas kelas dunia yang saat ini berbasis di Kabupaten, Pelalawan Riau.
Kedatangan Menteri yang berasal dari Partai Amanat Nasional (PAN) itu, disambut langsung Presiden Direktur Utama PT RAPP, Kusnan Rahmin dan sejumlah staf. Menhut sempat melihat beberapa produk turunan yang dihasilkan masyarakat dari program binaan PT RAPP.
Selain mendapat penjelasan secara umum tentang program pelestarian lingkungan yang dijalankan PT RAPP, Menhut juga langsung dipertemukan dengan Kehong (50), Ketua Kelompok Tani Mangrove, Desa penyengat, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak.
Kepada sang Menteri, Kehong tak sungkan melayangkan pujian terhadap program binaan yang dilakukan RAPP, salah satunya dengan program penghijauan diwilayah pesisir desa penyengat. Menurutnya, Desa yang memiliki luas 54 ribu hektare, seluas 3 ribu hektare sudah ditanami mangrove.
Keputusan untuk menanam mangrove sendiri katanya, dilatar belakangi oleh kondisi pesisir Desa Penyengat yang mengalami abrasi besar, dimana ombak perairan penyengat kerap mengikis wilayah daratan dan mengancam keberadaan lahan pertanian warga.
"Dengan adanya bantuan PT RAPP inilah, sejak 2010 lalu saya dibantu dengan 15 anggota kelompok tani lainnya, bahu membahu menanam mangrove diseluruh wilayah pesisir Desa Penyengat. Kalau ini tidak kami lakukan, luas daratan desa kami terus mengalami penyusutan," ujar kepada Menhut.
Saat ini katanya, kelompok tani Desa penyengat sudah berhasil menanam sekitar 10 ribu bibit mangrove, sehingga masyarakat setempat tidak perlu khawatir lagi lahan pertanian mereka tidak amblas lagi digerus air ombak.
Lebih dari itu katanya, kini kelompok tani khusus penanam mangrove juga tengah mengembangkan industri turunan dari bahan baku mangrove. Seperti pembuatan syrup berbahan baku mangrove. " Kami dibantu perusahaan untuk mengen]mbangkan turunan mangrove ini pak Menteri, salah satunya sirup yang dipajang sekarang," ujarnya seraya menunjuk produk yang dimaksud.
Tak pelak, penjelasan Kehong ini mendapat apresiasi dari Menhut. ia menilai kolaborasi masyarakat Desa penyengat dan PT RAPP telah berhasil menghasilkan produk turunan yang dianggap sangat inovatif.
"Kegiatan seperti ini sangat inovatif, perusahaan sangat peduli dengan masyarakat dan masyarakat juga mau bekerjasama dengan perusahaan untuk melestarikan lingkungan. Saya berharap kegiatan yang seperti ini bisa lebih ditingkatkan," ujar Zulkifli.
Ditempat yang sama, Presiden Dirut PT RAPP Kusnan Rahmin menyambut baik digelarnya Indogreen Forestry Expo ini. Karena pameran program penghijauan ini juga dipandang sebagai jawaban atas kritik sejumlah pihak terutama NGO asing yang selalu mendiskreditkan perusahaan kehutanan sebagai perusak lingkungan.
"Pameran ini sebagai ajang pemberian pemahaman masyarakat terutama NGO yang selama ini kritis menyuarakan deforestasi pembabatan hutan, karena dalam pameren inilah bisa dilihat apa sebenarnya yang dilakukan perusahaan, misalnya untuk program CSR, kita membantu masyarakat dalam hal edukasi dan menjaga lingkungan. Untuk kawasan penyangga, kita juga punya kawasan khusus untuk satwa liar dan daertah resapan air," pungkasnya.
mengaku bangga dengan hasil program yang dijalankan perusahaannya itu dengan masyarakat. Katanya, program itu merupakan cerminan kepedulian perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan diwilayah operasi PT RAPP.
Tidak hanya dibidang lingkungan, saat ini katanya PT RAPP melalui program CSR tengah membantu masyarakat dibeberapa daerah di Riau untuk bisa menciptakan lapangan pekerjaan dengan kemampuan diri. "Kita mengadakan pelatihan-pelatihan seperti montir, las fabrikasi, agar masyarakat yang menganggur memiliki skil dan bisa bekerja dengan layak," tukasnya.
Selain itu, PT RAPP kata Kusnan lagi juga tengah gencar memberikan bantuan biaya pendidikan melalui beasiswa kepada pelajar dan mahasiswa berprestasi di Indonesia. Dalam pameran ini, PT RAPP juga menampilkan beberapa kerajinan masyarakat seperti Batik Bono, Madu Sialang dan Sirup Pedada.(ian)