Toxic Positivity, Apa Sih itu?

Selalu memiliki pikiran yang positif memang lah baik, namun jika berlebihan pemikiran positif tersebut juga bisa saja menjadi racun untuk diri kita loh. Positif tapi beracun? Hal inilah yang disebut dengan Toxic Positivity. Secara jelasnya, Toxic Positivity adalah kepositifan yang beracun sebagai bentuk dari generalisasi berlebihan yang berlebihan dan tidak efektif dari keadaan bahagia dan optimis di semua situasi. Proses hasil toxic positivity adalah pertama tahap penyangkalan, minimalisasi atau mengecilkan perasaan kita yang sebenarnya, dan tidak merasa bahwa emosi yang kita rasakan adalah emosi yang valid dan boleh kita rasakan.

Sama seperti apa pun yang dilakukan secara berlebihan, ketika kepositifan digunakan untuk menutupi atau membungkam pengalaman manusia atau perasaan yang sebenarnya, maka pemikiran positif itu akan menjadi racun. Dengan tidak mengizinkan keberadaan perasaan tertentu, kita jatuh ke dalam keadaan penyangkalan dan emosi yang tertekan. Sebenarnya, manusia itu cacat. Kami cemburu, marah, kesal, dan serakah. Kadang-kadang hidup bisa sangat payah. Dengan berpura-pura bahwa kita harus memiliki “positive vibe sepanjang hari”, kita menyangkal kevalidan dari perasaan kita yang sebenarnya.

Berikut adalah beberapa contoh kamu terkena Toxic Positivity dalam bahasa inggris yang bisa kamu baca sambil belajar dasar bahasa inggris.

1. Hiding/Masking your true feelings atau menyembunyikan perasaan mu yang sebenarnya
2. Trying to “just get on with it” by stuffing/dismissing an emotion(s) atau membiarkan diri mu tenggelam dalam emosi
3. Feeling guilty for feeling what you feel atau merasa bersalah tentang perasaanmu
4. Minimizing other people’s experiences with “feel good” quotes or statements atau mengecilkan pengalaman orang lain dengan quotes
5. Trying to give someone perspective (e.g., “it could be worse”) instead of validating their emotional experience atau memberi orang lain sudut pandang baru bukannya memvalidasi apa yang ia rasakan
6. Shaming or chastising others for expressing frustration or anything other than positivity atau mempermalukan orang yang mengutarakan rasa frustasinya
7. Brushing off things that are bothering you with an “It is what it is” atau memprasahkan apa yang mengganggu mu.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *